trimarsantofilms

sambil berjalan merekam perubahan

Inilah Doa Kaum Perempuan

Apakah Anda ( perempuan ) mempunya persoalan dengan berat badan ? Kegemukan ? Persoalan rambut kering dan rontok ? Cemas memilih pembalut ? Punya persoalan mencuci pakaian tidak bersih ? Selalu gagal dalam memasak, meskipun setiap hari membuat dan mencari kliping masakan ? Ataukah, Anda ibu muda yang tengah bingung dengan persoalan makan anak ? Butuh vitamin ? Bingung mencari susu pabrik yang paling tepat ?

Itulah beberapa narasi iklan di televisi. Premis iklan televisi yang menempatkan perempuan sebagai sasaran / calon konsumennya. Produsen barang  begitu tergiur dengan pangsa pasar perempuan di Indonesia. Sebab, 51 % penduduk Indonesia adalah perempuan. Pasar yang empuk, gemuk dan menggiurkan -tentunya.

Alhasil, produsen seringkali menempatkan segmen perempuan sebagai prioritas pasarnya. Produk menjadi segmentatif. Program televisi juga mulai memilih sasaran pemirsanya : perempuan dengan iklan iklan nya. Juga program televisi tak akan beranjak dari aspek proksimitasnya.

Faktanya memang seperti itu. Perempuan adalah pasar. Potensinya besar.  Maka, iklan televisi senantiasa mengasosiasikan produk yang diiklankan dengan aspek yang tak masuk akal. Senantiasa menampilkan wanita cantik elok molek sebagai ikon dan model produk. Menarik selebriti yang cantik menawan untuk bisa mempersiasi pemirsa, dari produk yang ditawarkan.

Terus terang, iklan televisi melahirkan kecemasan sekaligus solusi dalam kepentingan kapital. Kecemasan diasosiasikan dan produk yang ditawarkan adalah solusinya. Seorang feminis, Naomi Wolf  ( dalam Beautiful Myth )  menulis catatan yang menarik.  ” Media modern telah memberiku  semacam campuran antara antisipasi dan ketakutan. Semacam eforia yang begolak dan itu semu “

Iklan televisi memang punya kemampuan untuk meyakinkan. Tentu, setiap perempuan ingin mempunyai tubuh yang langsung, rambut yang menawan, serta pribadi yang menyenangkan. Inilah asosiasi yang acapkali dilontarkan oleh iklan televisi.

Maka, televisi telah setidaknya telah menulis mantra mantra visual secara persuasif dalam iklannya dengan asosiasi :

1) jadikan aku perempuan  tampil menawan secara fisik, berbadan bagus, bergigi putih, berambut bersih menawan

2) jadikan aku perempuan yang mempunyai pribadi yang tepat, sosok yang senantiasa tampil sebagai penyelamat bagi keluarga dalam kondisi apapun, sukses karir, rumah tangga dan pendidikan anak

3) jadikan aku perempuan yang mampu mengkoleksi pakaian, sepatu, parfum, mobil, jam tangan, tas, dengan merek merek ternama.

Mantra ini sudah tentu akan membuat siapapun senang. Logika ini logika iklan. Secara duniawi akan tercapai. Namun, jika mantra iklan televisi ini tidak tumbuh sebangun dengan daya beli masyarakat perempuan itu sendiri, lalu apa gunanya ? Apalagi ekonomi sedang lesu, inflasi tinggi, daya beli merosot dan lain lain. Nah. *****

Advertisements

April 19, 2011 Posted by | Sosialita, Television | , , , , , , , , | Leave a comment

Seks-Erotis dalam Bisnis Film

Inilah jaman ketika media massa berkuasa. Semua telah terkooptasi oleh media. Dalam lingkup gurita bisnisnya. Ketika yang dijual itu tentang seksualitas, skandal dan wilayah wilayah yang sensitif, maka peluang keuntungan tinggi akan diperoleh.

Apakah media mem-bisnis-kan seks dalam kasus video mesum selebriti kita pada saat ini ? Apakah mereka mengambil untung yang luar biasa ? Jawabanya sederhana : tentu. Tentu dan pasti. Ingat dalam sebulan ini tayangan televisi dipadati oleh ekspose seputar video mesum selebriti dan teman temannya, dalam ragam versi. Dalam bentuk feature news, talk show, infotanimen, dan yang lain. Semua laku dijual bung jika soal seks ! Demikian alibinya.

Mungkin, kita ingat penulis buku Moamar Emka. Bukunya yang mengangetkan dengan jumlah ribuan yang terjual, bicara soal seks : Jakarta Undercover. Bahkan karena begitu larisnya telah dibuat film dengan judul yang sama.

Industri Hollywood juga tak tinggal diam mengeruk untuk dari bisnis seks da;lam filmnya. Ingat film Basic Instinct, karya sutradara Paul Verhoven. Film ini menawarkan sebuah adegan sensual Sharon Stone yang mengangkat kaki dan -maaf- katanya tanpa celana dalam. Ketika dirilis langsung meroket dengan keuntungan lebih dari USD 352juta,  sementara, hanya diproduksi dengan dana USD tak lebih dari 30 juta saja.

Lalu, ditengah tengah hiruk pikut seks di wilayah media, siapakah yang paling diuntungkan ? Seks adalah komoditas. Tak ubahnya sebuah konflik yang memang laku untuk dijual  . Alhasil, seks adalah sebuah bisnis yang menggiurkan keuntungannya.

Setidaknya, banyak kalangan dibuat kalang kabut, terutama orang tua. Yang merasa anak-anaknya akan tergoda oleh ekspose seksualitas pornografi di wilayah media. Semua takut. Sementara pemilik media tertawa dan menghitung keuntungan yang semakin menggunung setiap harinya.

Bukankah demikian faktanya ? ******

April 19, 2011 Posted by | Sosialita | , , , , , , , | Leave a comment

Formula Perempuan dalam Opera Sabun

Telenovela, sinetron masuk dalam jenis opera sabun. Ini adalah jenis hiburan yang hingga kini dipuja jutaan pemirsa televisi dunia.

Telenovela pernah menjadi primadona, di awal kebangkitan dan kelahiran stasiun televisi kita. Banyak ibu, pembantu rumah tangga, wanita karir bahkan para bos pengambil kebijakan tergila gila pada telenovela, kala itu. Bukan hanya karena kecantikan dan ketampanan khas Amerika Latin. Lebih dari itu. Lantaran, kisahnya mampu mengaduk emosi, membuat para pemirsa penasaran.

Tentu, kita ingat : telenovela Litle Missi, Maria Mercedez, Marimar, Charita de Angel, dan yang lain. Bukankah popularitasnya begitu tinggi. Karena rating-nya yang tinggi, pihak pengelola stasiun tidak merasa rugi jika harus mendatangkan para pemainnya.

Kisahnya menjadi berubah, setlah industri televisi kita mulai menemukan formula dan karakter masyarakat pemirsa. Sinetron lokal, perlahan, mampu menggeser, bahkan mematikan popularitas telenovela. Alhasil booming sinetron membuat pemirsa merasa dipenuhi aspek resepsi estetiknya.

Selera itu sulit ditebak. Pasar sinetron juga tak bisa dibaca dengan ilmu pasti. Pada titik tertentu akan mengalami klimaks di puncaknya, dan kemudian akan terjun bebas. Sinetron pernah menghadirkan segenap kejayaan secara ekonomis bagi pelaku dan pekerjanya. Namun, pasar yang sulit ditenak, memaksa untuk bisa meredefinisi industri sinetron itu sendiri.

Berangkat dari fakta telenovela, yang fenomenal, kita bisa memahaminya dalam beberapa hal. Pertama, sesungguhnya telenovela adalah sidik jari bagaimana seharusnya kita dapat memposisikan kaum perempuan ditengah determinasi dunia laki laki. Cara berpikir yang patriarchal, menempatkan laki menjadi pusat dan dominant, nampaknya menjadi “sebuah percakapan kreatif”.

Kedua, telenovela lahir dari multiplot dan multikarakter, yang didalamnya tak jarang hadir sosok laki-laki dengan sensitivitas nya terhadap kaum perempuan. Persoalan yang dikupas senantiasa tak lepas dari bagaimana perempuan sebagai tokoh utamanya saling bertarung, untuk merebut harta dan kekuasaan. Menariknya, ada kemampuang untuk membongkar segenap determinasi pemikiran pemikiran yang dominant dan dipunyai oleh kaum laki laki, atau perempuan yang mempunyai cara pandang yang dominant seperti laki laki. ******

April 19, 2011 Posted by | Television | , , , , , , , , , , | Leave a comment

Nasib TV Tergantung Remote

Berpindah ke lain stasiun, manakala iklan ditayangkan adalah fakta yang terjadi. Psikologi pemirsa, masih dalam eforia. Pemirsa kita masih kagum dengan keragaman, ketersediaan, keleluasaan untuk bisa memilih program manakah yang akan ditonton.

Maka, remote control, punya sebuah kekuasaan. Pentingnya pihak stasiun televisi meramu program, tak lepas dari psikologi menonton televisi itu sendiri. Pemirsa akan berpindah, melompat ke stasiun lain, hanya dalam hitungan detik. Semakin banyak stasiun, akan menambah jumlah pacuan, dan makin kompetitif tentunya. Upaya pemirsa untuk berpindah dan melakukan penjelajahan makin akomodatif dalam sistem seperti ini.

Pemirsa kita bukanlah sosok yang punya selektivitas. Pemirsa tidak memilih program dengan berangkat dari nilai keutamaannya, nilai yang dikandunginya. Tetapi lebih pada, aspek bagaimana stasiun televisi itu mampu menyiarkan aspek aktualitas dan proksimitasnya. Selektivitas menonton masih bukan pada nilai konstruktif . Nilai itu bukan didefiniskan oleh pemilik stasiun. Melainkan milik pemirsa itu sendiri.

Pada fakta seperti ini, yang lantas terjadi adalah remote control telah memfasilitasi pemirsa memelihara rasa ingin tahu dan kebutuhannya pada siaran program televisi. Apakah ini juga merujuk pada pola konsumsi yang selektif ?

Selektivitas menonton program televisi, berarti sebuah kesadaran dalam menempatkan diri manakala berhadapan dengan program tayangan televisi. Sikap selektif bukan menjadi prinsip. Mungkin sangatlah langka, menemukan pemirsa televisi yang selektif.

Televisi –konon- menjadi media dengan fungsi menghibur, mendidik, dan memberi informasi. Apakah selamanya demikian ? Akankah sensasi justru lebih dominan ? Bukan pada aspek nilai keutamaannya ?

Pola menonton adalah pola memilih angka angka dalam remote control. Maka jangan heran jika pernah, ada stasiun televisi yang menganjurkan satu angka pada stasiun televisinya. Jika pemirsa melakukan hal yang sama, maka akan ada hadiah dari pihak stasiun telvisi yang datang secara tiba tiba, mengejutkan dan memberikan hadiah.

Jika faktanya demikian, apa benar jika hidup mati stasiun televisi tergantung pada remote ?

April 19, 2011 Posted by | Television | , , , , , , , , , , | Leave a comment

Anak yang Membunuh

Ada sebuah temuan yang mengangetkan. Terungkap, pola menonton tv setiap orang sebanyak  4 jam 22 menit. Angka yang cukup banyak. Akan tetapi, jumlah pola konsumsi ini bertambah : lima menit lebih lama dibandingkan tahun 2009. Sebuah bukti, ketika tayangan tv, menjadi begitu popular, alias membumi. Demikian ungkap Roger Silverstone ( Television in Everyday Life, 1991 )

Waktu lima menit yang lebih lama. Ini menjadi satu bukti, keberhasilan industri hiburan tv. Jam menonton bertambah, artinya eksistensi tv semakin dibutuhkan. Tv menjadi tamu yang tidak diundang, hadir di setiap ruang keluarga. Tamu ini ternyata cukup berhasil merayu keluarga keluarga dari ruang tamunya. Pada aspek lain , desainer program  tv kita berhasil. Berhasil, menarik animo penonton menikmati komposisi program yang mereka desain dan kemas.

Dari fenomena mutakhir itu, justru data kongkret lain muncul. Temuan riset dari The Nielsen Company (2010) adalah, merosotnya pamor sinetron. Jumlah orang menonton program sinetron terus menerus menurun. Terjadi penurunan, dari 24% menjadi 19% di tahun 2010, dengan kata lain, jam konsumsi program sinetron-pun menjadi berkurang. Yakni dari 204 jam tinggal 139 jam saja pertahun.

Berangkat dari fakta ini maka ada satu pertanyaan yang muncul. Siapakah yang merubah peta menonton tv, terutama dengan terampasnya pola menonton sinetron ?

Ternyata, program anak cukup ampuh untuk menciptakan peta baru itu. Catatannya, terjadi peningkatan konsumsi program anak dari 56 jam menjadi 62 jam. Lalu, apa yang menarik dari program anak di tv ?

Program anak memang dibungkus dalam kesannya yang utama yang konstruktif. Konstruksi program anak, memang terdesain untuk program anak. Yang intinya (dan seharusnya) mengedukasi dan mampu hadir sebagai literasi bagi pemirsa anak. Namun maaf, tidak semua program anak di tv mempunyai perannya seperti ini. Ada ratusan studi yang mengungkapkan bahwa program anak di tv membahayakan penonton anak sendiri.

Tradisi tv melahirkan beragam bentuk program anak yang amat edukatif. Ingat Sesame Street, Teletubies, hingga generasinya Dora The Explorer. Jika kita lihat program anak di tv buatan sendiri, memang nampak masih sangat minim. Karakter utamanya masih sangat terbatas, kecuali sebuah perjalanan mencari beragam informasi baru dari daerah yang berbeda.

Namun jangan lantas gembira jika program anak di tv makin menjadi favorit. Sebab, catatan survey pola menonton tv secara global sangatlah ironis. Dr. John Nelson dari Amerika mengungkapkan, bahwa tv telah membina anak anak dengan tayangannya. Tv telah memberikan kesan 80.000 tayangan kekerasan sebelum selama berada di sekolah dasar, dan telah mempertontonkan 200.000 bentuk kekerasan kepada anak menjelang usia 19 tahun.

Jika faktanya seperti ini, program anak memang menjanjikan. Program setidaknya -diharapkan- mereduksi krisis komunikasi tv. Namun, apakah program anak yang kita punyai cukup edukatif, setelah mampu “membunuh” sinetron ? Ataukah dalam program anak itu, tetap saja ada didikan “membunuh” juga ? ******

April 19, 2011 Posted by | Television | , , , , , , , , , | Leave a comment

Reporter = Provokator Konflik ?

Reporter tv. Siapa yang tidak kenal. Setiap stasiun tv kita punya. Mereka senantiasa hadir, penuh ekspresif dalam memberikan apa yang dibutuhkan oleh penonton tv. Tugas reporter  adalah mempresentasikan, menceritakan sekaligus melakukan riset dari peristiwa aktual yang tengah terjadi.  Menjadi reporter adalah sebuah kerja jurnalistik.

Tetapi, apakah reporter tv kita telah melaksanakan tugasnya dengan baik ? Mungkin sudah. Ini pendapat banyak stasiun tv kita. Alasannya, sejak deregulasi tv 1989, tetap saja reporter tv menjadi sebuah profesi yang stagnan dan nampaknya minim profesionalisme.

Beberapa hal bisa dibaca dari fakta reporter tv kita.

1) Stasiun tv masih mengedepankan persoalan penampilan, bagi kebanyakan reporternya. Fisik menjadi acuannya. Anda cantik dan tampan, ataupun bersuara bagus, maka anda memenuhi satu prasarat menjadi reporter.

2) Reporter tv seringkali kehabisan kata manakala menyiarkan sebuah peristiwa. Yang seringkali muncul adalah, reporter tv menjadi bingung akan berkata apa lagi kepada penonton, kecuali mengulang cerita dengan kosa kata yang sama. Ingat kasus siaran langsung penangkapan teroris di Wonosobo ataupun konflik mbah Priok.

3) Reporter tv seringkali berperan sebagai provokator dari kasus yang dilaporkannya. Sering muncul, reporter tv begitu emosional menyiarkan fakta, dan keluar dari etika profesionalitasnya cover bothside.

Kemampuan berbahasa, konon, indikator dari kecerdasan. Jika reporter kita kehabisan kosa kata, ada apa  dengan bangun industri tv kita. Kosa kata ibarat amunisi, peluru. Namun, ini lebih pada indkator dari kecerdasan itu sendiri.

Lalu, jika pada posisi lain reporter tv malah begitu emosional, tidak obyektif, akankah ia menjadi provokator dari sebuah konflik yang dilaporkan ? Ada sebuah keganjilan dalam memaknai abjad elektronik tv.

Bukankah demikian ?

April 19, 2011 Posted by | Television | , , , , | Leave a comment

Katakan dengan B O M !!!!!

Sebuah kado, adalah hadiah. Kado, tentu barang yang baik indah dan bagus. Bagi saya mendapat kado, menyenangkan. Membahagiakan, tentunya. Namun, orang mempunyai definisi yang berbeda pada sebuah kado. Kado, adalah Bom ! Kado adalah upaya untuk membunuh. Kado adalah terror ! Maka siapapun akan takut manakala menerima kiriman kado.

Paling tidak catatan itulah yang  muncul ketika Komunitas Utan Kayu  dan sebuah masjid Cirebon dikirimi kado : Bom ! Bom,  dan senjata menjadi kosakata yang paling popular untuk  menekan, mengintimidasi dan mengancam. Bom dan senjata, adalah kata yang paling laku dan diartikulasikan secara masiv.

Saya kenal Robert Rodriquez. Sutradara nyentrik,  yang karya karyanya mirip dengan Quentin Tarrantino. Satu karyanya yang sukses secara komersial adalah film : Desperado. Film ini memadukan Antonio Banderas dan Salma Hayek. Kisahnya sangat sederhana. Yakni tentang seorang pengamen yang menjadi legenda, ia mampu membunuh penjahat dan mafia narkoba dengan senjata yang tersimpan rapi dalam tas gitarnya.

Dalam sebuah percakapan dengan El Mariachi (Banderas) bertemu dengan Carolina (Hayek) yang seorang gadis bandar narkoba. Sebuah percakapan menyentuh terjadi antara El Mariachi dengan Sarolina, pada sebuah kamar yang di depannya ada sebuah gitar akustik dan pistol beragam kaliber. El Mariachi berkata, ” Nampaknya dunia akan menjadi lebih indah jika jari tangan ini digunakan untuk menarik dan memetik senar gitar. Tidak untuk menarik pelatuk senjata”.

Apakah kita tetap percaya akan nilai kemanusiaan. Atau lebih memilih bom dan senjata untuk kita tarik pelatuknya : dan membunuh orang lain ?

April 18, 2011 Posted by | Sosialita | , , , , , , , , | Leave a comment

Gadis yang Minta dipanggil Irfan Bachdim !!

Riset Ac Nielsen terakhir mengungkap fakta menarik. Temuannya, program sinetron tv mulai tergeser. Telah dikalahkan oleh program olahraga. Khusus pada momen perebutan gelar piala AFC, ketika Indonesia menjadi salah satu finalis yang akhirnya dikalahkan oleh Malaysia.

Tentu, sebuah fakta menarik. Artinya, primadona program televisi yang diminati oleh masyarakat mengalami pergeseran. Inipun menjadi satu bukti, tentang peluang beragam program televisi yang bisa bergeser. Ingat, eforia piala AFF AFC, telah mendorong beberapa stasiun menggeser program andalan mereka dengan sajian program olahraga : sepakbola ! Tak mengherankan jika, stasiun tv dengan jalur segmented-nya mengambil program olahraga seperti ESPN sekalipun memang bisa hidup. Ini sangat masuk akal.

Tv memang menjadi satu media paling membumi. Demikian ungkap Roger Silverstone (TV in Everyday Life,1991). Fakta memang demikian. Kegialaan dan eforia pada sepakbola hasil konstruksi tv memang melahirkan efek karambol. Efek bola salju yang  muncul ternyata beragam, dan harap maklum : semuanya akan lari pada kalkulasi kapital. Misalnya : larisnya produk garmen timnas, munculnya program tv baru, eforia pada olahraga dan yang lain. Ini gerak kecil logika kapital, tentunya.
Suatu hari, saya melihat seorang gadis. Masih kelas tiga SD, barangkali. Ia mengenakan kaos bernomor punggung 17 : Irfan Bachdim. Ada kebanggaan, mengenakan kaos itu. Sang gadis kecil, bangga mempertontonkan kaos pada teman temannya. Ia nampak yakin. Ia ingin sekali dipanggil Irfan Bachdim seperti nama kaos yang ia kenakan. Bukan nama sesungguhnya yang orangtuanya berikan. “Panggil aku Irfan, jangan Endang !!!” Teriaknya.
Konstruksi tv memang menganggumkan. Ia adalah tiang tiang kapital yang tersusun secara rapi dan memikat. Itulah kehebatan tv. Ia berhasil menghasilkan sosok hero. sebaliknya pula, ia bisa menyudutkan seseorang hero untuk menjadi bandit. Itulah logika tv. Tergantung kepentingan mana yang ingin didongkrak. ****

April 18, 2011 Posted by | Sosialita | , , , , , , , | Leave a comment

Apakah John Rambo Sudah Menikah ?

Otot kawat, tulang besi ! Itulah kandungan sosok pahlawan, yang secara lisan diturunkan secara turun temurun. Kekuatan yang luar biasa, tiada tanding ! Tiada banding.

Formula ini akhirnya menjadi satu komposisi, atau kadar kandungan dalam industri film. Film film Hollywood, sudah membuktikan kandungan komposisi itu. Pahlawan, dalam film laga Hollywood, bisa berasal dari kalangan manapun. Bisa berotot, atau mereka yang mengandalkan otak. Gabungan keduanya.

Melihat film aksi era 1980-an adalah menarik. Kala itu, film aksi penuh otot didominasi oleh kemunculan aktor Stallone, Arnold Swazeneger, Dolp Ludgren. Tiga aktor ini adalah jaminan film laris era 1980-an dengan genre aksi. Dan era 1990-an melahirkan sosok otot Van Damme, hingga kini memunculkan sosok The Rock dan Jason Stanthan.

Adalah menarik mengamati kemunculan film aksi. Orang tak lagi bicara terminologi filmdengan kamusnya yang tebal. Dari soal esensi movement camera, hingga pentingnya seni peran. Yang hadir hanyalah, aksi tiada henti yang membuat penonton terhibur senang. Dan mereka tak merasa rugi dengan, telah mengeluarkan uangnya.

Film aksi Hollywood telah melewati batas. Sosok hero melahirkan kekaguman di segenap benua. Formulanya cuma satu : buat penonton senang dan terhibur. Tidak perlu logika yang cerdas. Yang penting, satu sosok hero bisa mengalahkan 1001 prajurit dengan sekali gerakan.

Saya jadi ingat essay seorang teman, Pico Iyer dalam judul Video Night at Katmandhu, tentang gempita film John Rambo pertama First Blood (1988). Tulisnya : Rambo telah menaklukan Asia. Di Cina satu juta orang telah berlomba untuk menonton First Blood, dalam seminggu pasca premiere. Para calo telah menaikan harga tiket sepuluh kali lipat : dan tetap laku sekalipun harganya selangit. Penonton dibuat terpesona sambil menggelengkan kepala ketika John Rambo (sang pahlawan) berhasil melumpuhkan tujuh orang tentara dalam satu adegan.

Dan seorang reporter tengah mewawancarai seorang gadis Cina (23 tahun), setelah selesai menonton First Blood. Reporter asing itu bertanya : bagaimana menurut Anda film ini. Film yang sangat cermat dan memikat, jawabnya. Lalu gadis itupun terus bertanya : “Apakah John Rambo sudah menikah ?” ****

April 18, 2011 Posted by | FICTION | , , , , | Leave a comment

Pahlawan itu Jahat, Namun Simpatik !

Kenapa kamu membunuh orang ?”


“Saya membunuh, dan dipenjara karena orang itu mentertawaiku !” Jawab Billy The Kid pada sebuah jamuan makan bersama.Jawaban yang membuat semua anggota gank, terdiam.

Young Guns, produksi tahun 1988 ini, sebuah film aksi western karya Christoper Cain. Sekelompok anak muda, yang ingin membalas dendam atas kematian bapak angkat mereka.  Sebuah kelompok  yang mereka sebut penegak hukum. Mereka diberi kewenangan secara hukum, untuk menegakan keadilan.

Kelompok ini  yang akhirnya memberanikan diri untuk menumpas segenap kejahatan sebuah kota kecil. Langkah anak anak muda ini, justru menjadi bumerang.  Sekelompok anak muda pimpinan William Boney ini, dikejar banyak pembunuh bayaran. Dan akhirnya, Pat Garrets -seorang sherrif-, berhasil menjebak mereka. Sebuah pertempuran terbuka, yang menceraiberaikan anggota gang.

Young Guns menjadi film aksi western laris era 1990-an, dengan keuntungan lebih dari USD 80 juta. Idenya tentang William H Boney, anak muda yang fasih memainkan senjata. Atau yang lebih popular dengan sebutan Billy The Kid. Adalah menarik mengamati Emilio Eztavez, yang memerankan Billy The Kid. Dengan fasih, Emillio berhasil memerankan karakter anak muda dengan banyak layer. Sosok dengan mutli pribadi. Tipe anak muda yang, ada kalanya tampil beringas, tidak kenal kompromi, bisa keji untuk membunuh, butuh cinta, ahli strategi pertempuran,  namun berani bertanggung jawab dengan mengorbankan nyawanya.

Sebuah sosok anak muda yang ideal. Sebuah idealisasi imajiner, dari Christoper Cain, yang ingin menghidupan sosok Billy the Kid. Sutradara berhasil menghidupkan, aapa anatomi film Hollywood itu. Akhirnya Young Guns sukses dalam membangun genre aksi yang senantiasa penuh dengan prasarat : kebut kebutan – kejar mengejar (kuda), perkelahian, tembakan, dan cinta (yang nanggung). Pada era ini, Young Guns juga dihiasi oleh aktor aktor muda berbakat, yang menjadi idola pada eranya. Kecuali Emilio Eztavez, ada Charlie Sheen, Lou Diamond Philips, Kiefer Sutherland, dan Deltmon Mulroy.

Memang Hollywood telah begitu banyak melahirkan film yang mencoba mengupas sosok Billy The Kid. Dan nampaknya, Young Guns berhasil menawarkan perspektif baru : siapa sesungguhnya Billy The Kid. Apakah pahlawan atau buron ? Yang berjasa atau yang perlu dicurigai. Yang perlu dilindungi, ataupun dibasmi.

Bagi Hollywood, narasi pahlawan atau buron, batasnya selalu dibuat tipis. Tafsir kepahlawanan yang jahat, namun menyisakan simpati bagi penonton adalah percakapan klasik yang tak pernah selesai. Dan, kita sebagai penonton sangat menikmati peristiwa itu. Bukankah demikian faktanya ?

April 18, 2011 Posted by | FICTION | , , , , | Leave a comment